Senin, 18 April 2011

Memahami Proses Komunikasi dalam Masyarakat + Memahami Audiensi Massa dan Budaya Massa

Memahami Proses Komunikasi dalam Masyarakat




Anda tentu masih ingat bukan, bahwa proses komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses pemindahan/transmisi atau penyampaian ide, gagasan, informasi, dan sebagainya dari seseorang (sender atau komunikator atau sumber) kepada seseorang yang lain (receiver atau komunikan). Proses komunikasi diantara keduanya dapat dikatakan berhasil apabila terjadi kesamaan makna. Sebaliknya, komunikasi menjadi gagal bilamana keduanya tidak memiliki kesamaan makna atas apa yang dipertukarkan atau dikomunikasikan.
Menurut Effendy (1999: 11 – 19), Proses komunikasi dalam masyarakat dapat dibedakan atas 2 tahap:

1. Proses Komunikasi secara Primer

Yang dimaksudkan dengan proses komunikasi secara primer yakni proses penyampaian pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang lain menggunakan lambang atau simbol sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial (gesture), isyarat, gambar, warna, dan sebagainya yang  secara langsung mempa “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
Sekarang mari kita bahas satu per satu. Kial (gesture) adalah isyarat dengan menggunakan anggota tubuh seperti anggukan atau gelengan kepala, kedipan mata, tepukan tangan, dll. Semua lambang nonverbal ini memang dapat “menerjemahkan” pikiran seseorang sehingga terekspresikan secara fisik. Akan tetapi menggapaikan tangan, atau memain­kan jari-jemari, atau mengedipkan mata, menggerakkan anggota tubuh lainnya hanya dapat mengkomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat terbatas).
Isyarat dengan menggunakan alat seperti gong, tambur, sirene, dan lain-lain  mempunyai makna tertentu. Membunyikan gong di tengah malam di kampung-kampung di Timor atau di Sumba itu pertanda meminta pertolongan (ada perampokan, pencurian, ataupun kebakaran).
Warna juga yang mempunyai makna tertentu dalam berkomunikasi di masyarakat. Warna putih selalu diidentikkan dengan ketulusan dan kemurnian. Warna hitam selalu dipertunjukkan untuk mengekspresikan kesedihan. Misalnya, sebagai tanda perkabungan.
Gambar sebagai lambang yang banyak dipergunakan dalarn komunikasi memang melebihi kial, isyarat, dan warna dalarn hal kemampuan “menerjemahkan” pikiran seseorang, tetapi tetap tidak melebihi bahasa. Alasannya, buku-buku yang ditulis dengan bahasa sebagai lambang untuk “menerjemahkan” pemikiran tidak mungkin diganti oleh gambar, apalagi oleh lambang-lambang lainnya. Akan tetapi, demi efektifnya komunikasi, lambang-lambang tersebut sering dipadukan penggunaannya.
Dengan demikian jelaslah bahwa pikiran dan atau perasaan seseorang baru akan diketahui oleh dan akan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan dengan menggunakan media primer “tersebut, yakni lambang- lambang. Dengan perkataan lain, pesan (message) yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan terdiri atas isi (content) dan lambang: (symbol).
Jadi jelaslah, media primer atau lambang yang pa­ling banyak digunakan dalam komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, tidak semua orang pandai mencari kata-kata yang tepat dan lengkap yang dapat mencerminkan pikiran dan perasaan yang sesungguhnya. Selain itu, sebuah per­kataan belum tentu mengandung makna yang sama bagi semua orang. Kata-kata mengandung dua jenis pengertian, yakni pengertian denotatif dan pengertian konotatif. Sebuah perkataan dalarn pengertian denotatif ada­lah yang mengandung arti sebagaimana tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama. Perkataan dalarn pengertian konotatif adalah yang mengandung pengertian emosional atau mengandung penilaian tertentu (emo­tional or evaluative meaning).
Misalnya saja jika anda mengucapkan kata “anjing” dalarn pengertian denotatif memiliki makna dan interpretasi yang sama bagi setiap orang. Begitu mendengar kata “anjing” maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah bahwa ia binatang yang berkaki empat, berbulu, hewan piaraan bagi sebagian orang, dan memiliki daya cium yang tajam. Namun, kata “anjing” dalarn pengertian konotatif, bisa bermakna lain bagi sebagian orang. Bagi seorang kiai yang fanatik kata “anjing” bisa dimaknai sebagai hewan yang najis; bagi seorang polisi merupakan pelacak pembunuh, dst.
Nah, bagaimana proses komunikasi itu bisa berlangsung? Sebagaimana Anda pelajari pada mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, bahwa dalam proses komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) yang melibatkan dua orang dalam situasi interaksi, sang komunikator menyandi suatu pe­san, lalu menyampaikannya kepada komunikan, dan komunikan mengawasandi atau menyandi balik pesan tersebut. Sampai di situ komunikator menjadi encoder dan komunikan menjadi decoder. Akan tetapi, karena komunikasi antarpersona itu bersifat dia­logis, maka ketika komunikan memberikan jawaban, ia kini menjadi encoder dan komunikator menjadi decoder.
Supaya lebih jelas, perhatikan contoh berikut. Pada suatu hari, Daniel dan Ratna bertemu dan berbicang-bincang. Yang menjadi komunikator adalah Daniel sedangkan komunikan, Ratna. Selama komunikasi berlangsung an­tara Daniel dan Ratna, akan terjadi penggantian fungsi secara bergiliran sebagai en­coder dan decoder. Jika Daniel sedang berbicara, ia menjadi encoder; dan Ratna yang sedang mendengarkan menjadi decoder. Pada saat Ratna memberikan tanggapan dan berbicara kepada Daniel, maka Ratna kemudian menjadi encoder dan Daniel menjadi decoder. Tanggapan Ratna yang disampaikan kepada Daniel itu dinamakan umpan balik atau arus balik (feedback).
Umpan balik memainkan peranan yang amat penting dalam komunikasi sebab ia menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan oleh komunikator. Oleh karena itu, umpan balik bisa bersifat positif, dapat pula bersifat negatif. Umpan batik positif adalah tangga­pan atau response atau reaksi komunikan yang menyenangkan komunikator sehingga komunikasi berjalan lancar. Sebaliknya, umpan balik negatif adalah tanggapan komunikan yang tidak menyenangkan komunikatornya sehingga ko­munikator enggan untuk melanjutkan komunikasinya.
2. Proses Komunikasi secara Sekunder
Setelah Anda pahami tentang proses komunikasi secara primer, sekarang kita akan meembahas proses komunikasi secara sekunder. Yang dimaksudkan dengan proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh se­seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai me­dia kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Mengapa menggunakan alat bantu atau media kedua? Alasannya bisa beragam. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan ko­munikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang re­latif jauh. Alasan lainnya, jumlah komunikannya banyak. Beberapa media kedua atau alat bantu yang biasanya digunakan antara lain: surat, telepon, telegram, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi adalah media kedua yang sering diguna­kan dalam berkomunikasi.
Pada umumnya kalau kita berbicara di kalangan masyarakat, yang dinama­kan media komunikasi itu adalah media kedua sebagaimana diterangkan di atas. Jarang sekali orang menganggap bahasa sebagai media komunikasi. Hal ini di sebabkan oleh bahasa sebagai lambang (symbol) beserta isi (content) – yakni pikiran dan atau perasaan – yang dibawanya menjadi totalitas pesan (messa­ge), yang tampak tak dapat dipisahkan.Tidak seperti media dalam bentuk su­rat, telepon, radio, dan lain-lainnya yang jelas tidak selalu dipergunakan. Tam­paknya seolah-olah orang tak mungkin berkomunikasi tanpa bahasa, tetapi orang mungkin dapat berkomunikasi tanpa surat, atau telepon, atau televisi, dan sebagainya.
Seperti diterangkan di muka, pada umumnya memang bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi karena bahasa sebagai lambang mampu mentransmisikan pikiran, ide, pendapat, dan sebagainya, baik mengenai hal vang abstrak maupun yang kongkret; tidak saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, tetapi juga pada waktu yang lalu atau masa men­datang. Karena itulah pula maka kebanyakan media merupakan alat atau sa­rana yang diclptakan untuk meneruskan pesan komunikasi dengan bahasa. Se­perti telah disinggung di atas, surat, atau telepon, atau radio misalnya, adalah media untuk menyambung atau menyebarkan pesan yang menggunakan bahasa.
Dengan demikian, proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (mass media) dan me­dia nir-massa atau media non-massa (non-mass media). Seperti telah disinggung tadi, media massa, misalnya surat kabar, radio siaran, televisi siaran, dan film yang diputar di gedung bioskop memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain ciri massif (massive) atau massal (massal), yakni tertuju kepada sejumlah orang yang relatif amat banyak. Sedangkan media nirmassa atau media nonmassa, umpamanya surat, telepon, telegram, poster, spanduk, papan pengumuman, buletin, folder, majalah organisasi, radio amatir atau ra­dio CB (citizen band), televisi siaran sekitar (closed circuit television), dan film dokumenter, tertuju kepada satu orang atau sejumlah orang yang relatif sedikit.
Sumber:
1.   Efendy, O. U., 1997. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
2.  Effendy, O. U., 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Memahami Audiensi Massa dan Budaya Massa


Audiens secara harafiah sama artinya dengan khalayak. Sebagaimana telah Anda pelajari sebelumnya menyangkut massa, maka berikut akan kita bahas sifat dari audiens massa:
1)      Terdiri dari jumlah yang besar.
Pembaca Harian Kompas adalah massa yang jumlahnya besar sehingga sulit diprediksi jumlahnya. Begitu pun dengan pemirsa Metro TV.
2)      Suatu pemberitahuan massa dapat ditangkap oleh masyarakat dari berbagai tempat, sehingga sifat audiens massa juga ada tersebar di mana-mana, terpencar, dan tidak mengelompok pada wilayah tertentu. Tidak bisa kita mengasumsikan bahwa SKH Pos Kupang hanya dibaca oleh Orang NTT saja.
3)      Pada mulanya audiensi massa tidak interaktif, artinya antara media massa dan pendengar atau pemirsanya tidak saling berhubungan, namun saat ini konsep ini mulai ditinggal, karena audien massa dan media massa dapat berinteraksi satu dengan lainnya melalui komunikasi telepon. Khalayak massa memiliki pilihan apakah akan berinteraksi melalui media massa atau tidak.
4)      Terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang sangat heterogen.
Khalayak massa tidak dapat dikategorikan atas segmentasi tertentu. Heterogenitas pemirsa dalam suatu acara TV ataupun pembaca surat kabar pasti selalu ada. Penonton acara Sepakbola tidak bisa kita katakan semuanya adalah laki-laki. Sekalipun mungkin semuanya laki-laki tetapi masih bisa beragam dari latar belakang pendidikan, ekonomi, dsb.
5)      Tidak terorganisir dan bergerak sendiri.
Karena jumlahnya besar, massa sulit diorganisir. Mereka akan bergerak sendiri-sendiri sesuai dengan gerakan sel itu sendiri (Bungin, 2007 :      75-77).
Budaya Massa
Komunikasi massa berproses pada level budaya massa, sehingga sifat-sifat komunikasi massa sangat dipengaruhi oleh budaya massa yang berkembang di masyarakat dimana proses komunikasi itu berlangsung. Budaya massa dalam komunikasi massa memiliki beberapa karakter:
1)         Non-traditsional, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan budaya populer. Budaya populer ini lebih cenderung menonjolkan unsur kepopulerannya. Contoh: kontes pencarian bakat di bidang tarik suara seperti Indonesian Idol, KDI, AFI, dsb.
2)         Budaya massa juga bersifat merakyat, tersebar di basis massa sehingga tidak mengerucut di tingkat elite, namun apabila ada elite yang terlibat dalam proses ini, maka itu bagian dari basis massa itu sendiri.
3)         Budaya massa juga memproduksi produk-produk massa seperti umpamanya infotainment adalah produk pemberitaan yang diperuntukkan kepada massa secara luas. Kita tahu bahwa semua orang juga dapat memanfaatkannya sebagai hiburan umum.
4)         Budaya massa sangat berhubungan dengan budaya populer sebagai sumber budaya massa. Contoh: acara-acara seni pertunjukan tradisional mulanya hanya menjadi tontonan/diminati oleh pemilik budaya dari seni yang bersangkutan. Namun begitu dikemas dan ditayangkan di media massa maka akan berubah menjadi budaya populer yang ditonton juga oleh berbagai kalangan dan latar belakang budaya yang berbeda.
5)         Budaya massa, terutama yang diproduksi oleh media  massa diproduksi menggunakan biaya yang cukup besar, karena itu harus menghasilkan keuntungan untuk kontinuitas budaya massa itu sendiri, karena itu budaya massa diproduksi secara komersial agar tidak saja menjadi jaminan keberlangsungan sebuah kegiatan budaya massa namun juga menghasilkan keuntungan bagi kapital yang diinvestasikan pada kegiatan tersebut.
6)         Budaya massa juga diproduksi secara ekslusif menggunakan simbol-simbol kelas sosial sehingga terkesan diperuntukkan kepada masyarakat modern yang homogen, terbatas dan tertutup (Bungin, 2007 : 77 – 78).
Sumber:
Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.

Hakekat dan Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi

Oleh: Petrus A. Andung
Lahirnya Sosiologi Komunikasi
Kalau Anda membaca dalam Bungin (2006:17), Anda pasti temukan bahwa asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, dimana Marx sendiri termasuk pendiri sosiologi yang beraliran Jerman. Gagasan-gagasan awal Marx tidak pernah lepas dari pemikiran Hegel. Sementara Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Marx.
Lalu, kira-kira, apa inti pemikiran Hegel? Menurut Ritzer sebagaimana dikutip Bungin, pemikiran Hegel yang paling utama adalah ajarannya tentang dialektika dan idealisme. Dialektika dipahami sebagai cara berpikir yang mana menekankan arti pentingnya suatu proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Dialektika juga dipahami oleh Hegel sebagai bagian yang berhubungan satu dengan lainnya. Nah, ternyata berawal dari pengajarannya tentang dialektika/hubungan inilah lalu kemudiannya timbullah gagasan-gagasan tentang komunikasi. Gagasan-gagasan ini, oleh Jurgen Habermas disebut dengan tindakan komunikasi (interaksi).
Apa yang terjadi selanjutnya? Bungin (2006 : 19) juga menyebutkan bahwa ternyata sosiologi telah menaruh minat pada persoalan komunikasi. Sejak Auguste Comte memperkenalkan istilah dinamika sosial, lalu konsep kesadaran kolektif oleh Emile Durkheim, interaksi sosial versi Karl Marx, tindakan komunikatif dan teori komunikasi dari Jurgen Habermas merupakan titik awal munculnya sosiologi komunikasi.
Ruang Lingkup dan Konsep Sosiologi Komunikasi
Setelah kita mengetahui sejarah lahirnya sosiologi komunikasi, sekarang kita akan membahas ruang lingkup sosiologi komunikasi. Pada bagian ini, Anda akan mengenal konsep-konsep apa saja yang termasuk dalam ruang lingkup sosiologi komunikasi.
Menurut Bungin (2006 : 27-31), sosiologi komunikasi terdiri dari 4 konsep yang sekaligus menjadi ruang lingkup sosiologi komunikasi. Ke-empat konsep tersebut yakni sosiologi, masyarakat, komunikasi, dan teknologi media/informasi. Selanjutnya, mari kita mempelajarinya satu per satu:
Sosiologi
Tentu anda masih ingat bukan, pengertian sosiologi dalam mata kuliah Pengantar Sosiologi. Untuk menyegarkan ingatan Anda, berikut disajikan beberapa pengertian dari sosiologi:
Liliweri, (Tanpa Tahun, halaman 2 – 4) mengutip beberapa pendapat para ahli tentang definisi sosiologi.
Roucek dan Warren, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok-kelompok.
William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff, sosiologi adalah penelitian ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Pitirin Sorokin (dikutip Bungin, 2006 : 27-28), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:
a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antar aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya: antara gejala ekomomi dan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya);
b. Hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial (misalnya: gejala geografis, biologis, dan sebagainya);
c. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial termasuk di dalamnya berbagai aktifitas atau gejala sosial yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan sosial.
Masyarakat
Setelah kita mempelajari sosiologi, sekarang kita akan membahas konsep kedua yaitu masyarakat. Ingat, masyarakat merupakan salah satu ruang lingkup dari sosiologi komunikasi. Artinya bahwa masyarakat merupakan salah satu yang dibahas dalam sosiologi komunikasi.
Apa itu masyarakat? Sebetulnya, masyarakat merupakan objek dari sosiologi. Untuk memahami definisi masyarakat, alangkah baiknya kita merujuk pada beberapa pandangan ahli berikut:
Ralph Linton (dikutip Bungin, 2006 : 29) memahami masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
Selo Soemardjan, mengatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
Dari dua definisi di atas jelaslah bahwa masyarakat itu terdiri dari kumpulan orang-orang yang hidup berdampingan (hidup bersama) dalam suatu wilayah dan terikat oleh aturan-aturan atau norma-norma sosial yang mereka tentukan dan taati.
Komunikasi
Masih ingatkah Anda bahwa istilah komunikasi yang dalam bahasa Inggris disebut communication, berasal dari bahasa Latin, communicatio? Sebagaimana Anda telah pelajari dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, kata communicatio berasal dari kata communis yang artinya sama. Tentu saja, konteks sama yang dimaksudkan ialah sama makna.
Kesamaan makna ini terjadi ketika misalnya Anda terlibat dalam percakapan dengan teman Anda, dimana tidak saja menggunakan bahasa yang sama, namun juga Anda berdua sama-sama mengerti dan memahami makna dari apa yang Anda berdua percakapkan itu. Jadi, kesamaan makna lebih mengarah pada kesamaan pandangan di antara orang-orang yang terlibat dalam komunikasi mengenai isi dari pesan tersebut.
Sebagaimana Anda tahu, banyak sekali definisi yang diberikan untuk memahami arti kata komunikasi. Secara sederhana, Anda dapat merujuk pada definisi yang diberikan Littlejohn (2002 : 7) bahwa komunikasi merupakan suatu proses pemindahan (transmisi) informasi.
Untuk kepentingan pendefinisian komunikasi, umumnya para pakar ilmu komunikasi merujuk pada pandangan Harold Lasswell dalam bukunya The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell (Effendy, 1997 : 10) yang menjelaskan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan berikut: Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect? Bila diterjemahkan maka akan menjadi: Siapa Mengatakan Apa dengan Saluran Apa kepada Siapa dan dengan Efek Apa?.
Bila Anda menyimak baik-baik formulasi Lasswell ini maka Anda akan dapat memahami elemen-elemen penting dari komunikasi. Mari kita bahas satu per satu.
Kata who (siapa) dalam konteks komunikasi merujuk kepada seorang pemberi pesan. Pemberi pesan ini biasanya dikenal dengan sebutan sumber informasi, komunikator, atau pengirim pesan.
Says what (mengatakan apa) merujuk pada apa yang diperkatakan. Dalam hal ini pesan atau isi dari percakapan/pembicaraan. Pesan ini lalu kita kenal dengan sebutan verbal (melalui kata-kata dan atau tulisan) dan non verbal (menggunakan bahasa isyarat).
In which channel (dengan saluran apa) mengarah pada alat atau saluran atau media yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Anda tentu tahu bukan, manusia dapat menggunakan bermacam-macam saluran dalam berkomunikasi. Media yang paling praktis dan semua orang menggunakannya saat berkomunikasi adalah panca indera manusia. Selain itu, kita juga mengenal saluran komunikasi menggunakan alat bantu seperti telephon, telegram, dan surat). Ada juga saluran komunikasi yang digunakan untuk khalayak yang jumlahnya lebih besar (massa) yaitu media cetak dan elektronik.
To whom (kepada siapa) ditujukan untuk penerima pesan. Penerima pesan ini disebut juga sebagai komunikan, atau receiver. Bila anda berinisiatif menelpon sahabat anda, maka sahabat anda itu disebut sebagai komunikan.
With what effect (dengan efek apa) merujuk pada pengaruh yang ditimbulkan dari komunikasi. Pengaruh ini dapat meliputi aspek pengetahuan, ketrampilan, dan sikap lawan bicara.
Jadi, berdasarkan uraian ini maka kita dapat menyimpulkan bahwa komunikasi itu terdiri dari sekurang-kurangnya 5 unsur yakni:
1. Komunikator (pemberi informasi)
2. Pesan
3. Media (saluran)
4. Komunikan (penerima informasi/pesan)
5. Efek (pengaruh).
Teknologi Komunikasi, dan Informasi
Teknologi komunikasi merupakan ruang lingkup ketiga dari sosiologi komunikasi. Mengapa? Berbicara komunikasi, apalagi komunikasi massa tidak bisa kita pisahkan dari persoalan teknologi komunikasi dan informasi. Ingat, pada bagian sebelumnya kita telah membicarakan bahwa teknologi komunikasi merupakan salah satu saluran/channel yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Apa itu teknologi komunikasi? Untuk menyamakan pemahaman kita, mari kita merujuk pada beberapa pandangan para ahli berikut.
Menurut Alter (Bungin, 2006 : 30), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data.
Martin (Bungin, 2006 : 30) mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.
Berdasarkan definisi tersebut di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa teknologi komunikasi berhubungan erat dengan perangkat keras dan lunak yang dapat digunakan untuk memproses dan mengirimkan informasi.
Sosiologi Komunikasi
Setelah anda memahami konsep-konsep sosiologi dan komunikasi, sekarang apa yang anda ketahui tentang sosiologi komunikasi. Secara sederhana, anda dapat membuat definisi sederhana dengan menghubungkan kedua konsep tersebut.
Namun untuk menyeragamkan pemahaman, tidak ada salahnya kalau anda memperhatikan beberapa pengertian berikut ini. Stephen F. Steele dalam Anne Arundel Community College and The Society for Applied Sociology (2002), sebagaimana dikutip Liliwery (Tanpa Tahun, hal 4), bahwa sosiologi komunikasi adalah studi yang mempelajari perilaku kolektif akibat media.
Selanjutnya, Liliwery sendiri memahami sosiologi komunikasi dalam dua bagian yakni level makro dan mikro. Dalam arti luas (makro), Liliwery berpendapat bahwa sosiologi komunikasi merupakan cabang dari sosiologi yang mempelajari atau menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam kelompok atau masyarakat. Sementara dalam artian sempit (mikro), Liliwery mendefinisikan sosiologi komunikasi sebagai cabang dari sosiologi yang mempelajari atau yang menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam konteks komunikasi massa dari suatu masyarakat.
Apa kesimpulannya? Ingat, sosiologi komunikasi adalah cabang dari sosiologi. Secara sederhana anda dapat mengatakan bahwa sosiologi komunikasi adalah cabang dari sosiologi yang mempelajari bagaimana proses pertukaran pesan/informasi terjadi dalam konteks masyarakat.
Ranah, Kompleksitas, dan Obyek Sosiologi Komunikasi
Ranah sama dengan domain, atau bisa juga dikatakan sebagai wilayah kerja. Sebagai sebuah disiplin ilmu, sosiologi komunikasi memiliki ranah/domain.
Menurut Bungin (2007:36), domain atau ranah sosiologi adalah individu, kelompok, masyarakat, dan sistem dunia. Selanjutnya, ranah-ranah ini juga bersentuhan langsung dengan wilayah lainnya seperti komunikasi, efek media massa, budaya kosmopolitan, proses dan interaksi sosial, dan teknologi informasi dan komunikasi.
Ranah dari sosiologi komunikasi seolah-olah, sama dengan ranah dari sosiologi. Namun, tidaklah demikian. Sosiologi komunikasi tidak mengambil utuh ranah dari sosiologi. Begitu pula dengan komunikasi. Ranah sosiologi komunikasi juga tidak mengambil ranah komunikasi secara keseluruhan.
Lalu, bagaimana hubungan antara ranah sosiologi komunikasi dengan ranah dari sosiologi dan komunikasi? Ternyata, sosiologi komunikasi menjembatani kajian-kajian yang dibicarakan baik dalam bidang ilmu komunikasi maupun sosiologi. Sebagaimana dibahas sebelumnya dalam pengertian sosiologi komunikasi bahwa sosiologi komunikasi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri. Ia merupakan salah satu cabang dari sosiologi yang secara khusus membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan proses komunikasi dalam masyarakat.
Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa sosiologi komunikasi memperbincangkan berbagai isu berkenaan dengan komunikasi berdasarkan perspektif sosiologis. Misalnya saja, dampak media massa bagi masyarakat, dan sebagainya.
Kompleksitas Sosiologi Komunikasi
Studi sosiologi komunikasi bersifat interdisipliner. Artinya, sosiologi tidak saja membatasi diri pada persoalan komunikasi dan seluk beluknya, tetapi juga membuka diri pada kontribusi disiplin ilmu lainnya seiring dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman. Karena bersentuhan langsung dengan berbagai disiplin ilmu, maka dapatlah dikatakan bahwa studi sosiologi komunikasi sedikit rumit atau kompleks.
Studi sosiologi komunikasi ikut dipengaruhi oleh perkembangan berbagai bidang ilmu di sekitarnya mulai dari perkembangan teknologi, budaya, sosiologi, hukum, ekonomi, dan bahkan negara. Bidang ilmu yang paling mempengaruhi perkembangan sosiologi komunikasi adalah teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini terjadi karena perubahan dan kemajuan teknologi komunikasi cenderung membawa dampak yang cukup besar terhadap kemajuan dan perubahan pada bidang-bidang ilmu lainnya seperti budaya, ekonomi, dan seterusnya.
Obyek Sosiologi Komunikasi
Anda tentu masih ingat, bukan bahwa objek materiil dari semua ilmu sosial adalah manusia. Sebagai salah satu disiplin ilmu sosial, sosiologi komunikasi juga menempatkan manusia sebagai objek kajian materiilnya.
Mari kita bahas satu per satu. Manusia sebagai objek materiil dari sosiologi komunikasi, berkenaan dengan aktifitas sosial manusia. Kita tahu, manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri. Setiap kita butuh orang lain. Anda masih ingat bukan bahwa salah satu aksioma dalam komunikasi yakni manusia tidak bisa tidak berkomunikasi. Sehingga dalam konteks sosiologi komunikasi, persoalan manusia difokuskan pada interaksi sosialnya dengan manusia lainnya dalam masyarakat.
Selanjutnya, objek formal dari sosiologi komunikasi adalah proses sosial dan komunikasi dalam masyarakat atau interaksi sosial. teknologi telekomunikasi, media dan informatika. Kita tahu, kemajuan teknologi sangat membawa dampak dan perubahan yang besar dalam hampir seluruh aspek masyarakat. Salah satunya media massa. Pengaruh media massa bagi masyarakat tidak bisa terlepas dari kemajuan dan kecanggihan teknologi komunikasi. Efek media massa ikut membentuk berbagai perubahan dalam masyarakat. Sebut saja, ada perubahan pola dan gaya hidup masyarakat, menciptakan perubahan sosial dan pola komunikasi dalam masyarakat, hingga terciptanya komunitas atau masyarakat maya. Selain itu, pengaruh teknologi komunikasi pun dapat merambah ke dunia ekonomi dan hukum.
Daftar Pustaka
1. Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.
2. Liliweri, Aloysius. Tanpa Tahun. Bahan Kuliah Sosiologi Media. Kupang: Fisip, Sosiologi.
3. Efendy, O. U., 1997. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Budaya Massa (Budaya Populer)

Kritik terhadap budaya massa atau populer kini memasuki lebih dari dua ratus tahun, dan dalam bentuk kontemporernya. Herbert J. Gans membagi kritik-kritik tersebut ke dalam empat tema, yaitu:
  1. Karakter negatif dari penciptaan budaya massa. Budaya populer tidak disukai sebab tidak seperti budaya tinggi, ini diproduksi secara massal oleh pengusaha yang berorientasi profit semata untuk kepuasan para audiens;
  2. Pengaruh negatif terhadap budaya tinggi. Budaya populer terbawa dari budaya tinggi, sehingga merendahkannya, dan juga daya tarik bagi jalan para kreator budaya tinggi, lalu menghabiskan mata air talenta;
  3. Efek negatif budaya populer terhadap audiens. Konsumsi budaya populer mengandung kesenangan yang terbaik, dan hal ini membawa dampak buruk yang berbahaya secara emosional kepada audiens;
  4. Efek negatif kepada masyarakat. Distribusi yang luas terhadap budaya populer tidak hanya mengurangi tingkat kualitas budaya—atau masyarakat madani—tetapi juga mendorong totalitarianisme dengan penciptaan suatu audiens yang pasif, responsif yang ganjil kepada teknik persuasi massa yang digunakan dengan bakat diktatorsif.
Cacat Budaya Populer sebagai suatu Usaha Komersial
Aliran kritis terhadap proses dimana budaya populer diciptakan terdiri atas tiga hal: 1) budaya massa adalah suatu industri yang terorganisasikan untuk profit, ia diproduksi untuk industri ini untuk menguntungkan; 2) ia harus mencipta suatu produk yang serba sama dan terstandadisasikan guna menyesuaikan terhadap sekelompok audiens massa, dan 3) hal itu membutuhkan suatu proses industri yang mentransformasi pencipta sebagai pekerja terhadap suatu produksi massa lini rakitan, yang membuat pencipta menyerah terhadap ekspresi individual pada keterampilan dan nilai dirinya. Analisis ini dipertajam oleh pernyataan Dwight MacDonald.
Perbedaan di antara Budaya-budaya LAINNYA
Pengaruh sistematik untuk mengevaluasi tiga hal di atas masih langka, namun perbedaan antara budaya populer dengan budaya tinggi sebagaimana institusi ekonomi adalah lebih kecil dari yang dianjurkan. Untuk memastikan, budaya populer didistribusikan oleh perusahaan bermotifkan profit yang mencoba memaksimalkan jumlah audiens, namun kemudian ini menyebabkannya sebagai budaya tinggi.
Satu perbedaan utama antara budaya populer dan budaya tinggi adalah pada ukuran dan heterogenitas dari total audiens. Budaya tinggi membidik sejumlah kecil orang-orang, mungkin tidak lebih dari separuh juta di semua negara bagian di AS, dimana program TV yang terkenal mungkin ditonton oleh lebih dari 40 juta. Sedangkan budaya populer lebih besar, juga lebih heterogen, dan meskipun budaya tinggi dibanggakan namun terbatas pada selera individualitas sebagai fakta budaya tinggi ini lebih homogen daripada budaya populer publik. Berdasarkan ukuran audiens, budaya populer diproduksi-massal, namun dengan demikian juga mengandung budaya tinggi yang banyak seperti buku-buku, rekaman, dan film-film. Beberapa para pengguna budaya tinggi cukup kaya untuk membeli lukisan asli, namun sebagian besar—sebagaimana pembeli seni populer—harus puas dengan cetakan produksi-massal.
Bahaya Budaya Populer terhadap Budaya Konteks Tinggi
Tema kedua dari kritik budaya massa ini adalah dua hal, yakni: budaya populer membawa serta konten dari budaya tinggi dengan konsekuansi merendahkan derajatnya, dan ini, dengan memberikan insentif ekonomis, budaya populer mampu memikat para pencipta budaya tinggi, sehingga merusak kualitas budaya tinggi itu. Van den Haag menjelaskan konsepsi prosesnya sebagai berikut: “Korupsi terhadap budaya tinggi dengan budaya populer terjadi dalam sejumlah bentuk, memulai secara langsung pencampuran. Misalnya Bach digulai oleh Stokowski, Bizet diracuni oleh Rodgers dan HammersteinFreud divulgarkan ke dalam kolom-kolom surat kabar (bagaimana menjadi bahagia dengan penyesuaian yang baik). Korupsi juga berada dalam bentuk mutilasi dan kondensasi… pekerjaan dipotong, dikondensasikan, disederhanakan dan ditulis-ulangkan hingga pada semua yang mungkin—pengalaman dan estetika yang masih asing—digagahi.”
Pengaruh Budaya Populer terhadap Audiens
Hal ketiga—dan jauh lebih serius dampaknya—adalah tema kritik bahwa budaya massa menyalahkan budaya populer memproduksi pengaruh-pengaruh berbahaya terhadap orang-orang yang menggunakannya. Sejumlah pengasuh khusus telah ditemukan: budaya populer secara emosional merusak sebab di dalamnya terkandung kesenangan semu dan membrutalkan kekerasan dan seks; inilah yang secara intelektual merusak sebab ia hanya mengejar konten yang merintangi audiens untuk melihat kenyataan; dan inilah yang merusak secara budaya, menghalangi kemampuan orang untuk ambil-bagian pada budaya tinggi.
PENGARUH BUDAYA POPULER
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang memilih isi media untuk memenuhi kebutuhan individual dan kelompoknya daripada menyesuaikan kehidupannya dengan apa yang diutarakan media atau keagungan. Mereka bukan individu terisolasi yang lapar seperti budak dan lalu menelan apa saja yang disajikan media, namun mereka adalah keluarga-keluarga, pasangan, dan kelompok sebaya yang menggunakan media ketika dan jika isi media relevan dengan tujuan dan kebutuhan kelompok. Dus, audiens tidak dapat diperhitungkan sebagai massa. Terlebih lagi orang-orang sedikit memperhatikan media dan sedikit dikuasai oleh kontennya daripada kritik—mereka yang lebih sensitif pada verbal dan simbol material lainnya, percaya. Mereka menggunakan media untuk hiburan (selingan) dan tidak akan berpikir penerapan isinya ke dalam kehidupannya. Akhirnya, pilihan konten dipengaruhi oleh persepsi selektif, sehingga orang-orang sering memilih konten yang sesuai dengan nilai dirinya dan menginterpretasikan isi yang komplikasi sehingga mendukung nilai tersebut. Maka pengaruh utama media adalah untuk mengokohkan perilaku dan sikap yang sudah ada daripada menciptakan yang baru.
Dalam perkembangan terakhir, riset tentang pengaruh memperhatikan pengaruhnyaterhadap kekerasan, khususnya terhadap perilaku anak-anak. Penelitian Herbert J. Gans terhadap tema ini menyarankan bahwa sikap dan aksi kekesaran pada media hanya untuk sebagian orang pada waktu yang bersamaan. Untuk memastikannya, studi laboratori memperlihatkan dalam jangka waktu lama bahwa film kekerasan mempengaruhi gerak-hati dan aksi diantara subyek anak-anak setelah menonton, namun tak seorang pun memperlihatkan pengaruh yang masif dalam jangka panjang. Studi di luar ruang memperlihatkan beberapa korelasi antara kekerasan televisi dan perilaku agresif yang biasanya dihasilkan dari kelompok konflik yang sering muncul secara spontan–kecuali anak-anak yang menonton—sulit untuk membayangkan bahwa televisilah penyebabnya atau yang mempertajam ekspresi agresifnya. Televisi dan media lainnya secara sederhana tidak ‘bermain’ dalam seluruh hidup anak-anak; aksi dan sikapnya yang diambil dari orangtua masing-masing dan sebayanya sejauh ini lebih beralasan.
Jika media memiliki suatu pengaruh signifikan terhadap sikap dan perilaku agresif sebagai kritik beberapa peneliti, peningkatan kekerasan secara konstan dimanifestasikan di Amerika sejak munculnya media massa, tetapi studi historikal mengatakan bahwa krminial kekerasan telah menurun selama periode yang sama. Tambahan lagi, anak-perempuan dan kaum berada bertindak sebagai cenderung-mendapat kekerasan sebagainmana anak laki-laki dan kaum miskin, namun studi ini memperlihatkan konsistensi pada anak-anak perempuan tidak bereaksi agresif setelah menonton kekerasan di media. Lebih lanjut, kemiskinan membenihkan kekerasan bahkan sebelum media massa ditemukan.
Observasi tersebut mengenai kekerasan media dan seks diterapkan ke dalam elemen kritis lainnya pada budaya populer dengan baik. Dengan pengukuran tujuan lainnya, fitur budaya populer banyak yang menghasilkan kebahagiaan pada akhirnya, para pahlawan dengan kekuatan super alami dan kebajikan-kebajikan lainnya, dan menyusun solusi terhadap masalah, di antaranya.
PENGARUH BERITA
Pengaruh berita tidak pernah diselidiki secara seksama, meskipun terdapat beberapa pengaruh dalam berita yang mengandung lebih dari apa yang mayoritas audiens inginkan untuk diterima, pemirsa tidak secara separuh-separuh mencurahkan, bahkan pada program berita yang menjadi favoritnya pun, dan orang-orang itu menggunakan sikap politiknya terhadap sumber berita televisi yang jadi favoritnya. Studi terdahulu terhadap pengaruh film propaganda dan dokumenter memperlihatkan bahwa mereka mengubah beberapa sikap.
Penggunaan periklanan politik adalah sangat berbahaya ketika para calon bersaing—atau isu-isu—memiliki sumber yang tidak imbang dan orang yang mempengaruhi dapat mendominasi media. Sebagian besar pengaruh media berita kemungkinan dihasilkan dari berita-berita ketimbang dari periklanan politik, dan dari cara berita dipresentasikan. Beberapa peneliti komunikasi massa mendebat bahwa pengaruh utama berita media adalah “agenda setting”, yang dilaporkan media sebagai berita tentang debat politik, atau sebagaimana disebut Steven Chaffee sebagai “komunikasi massa melayani lebih untuk menentukan pertanyaan-pertanyaan daripada jawaban-jawaban yang dirujuk audiens dalam meraih keputusan politik.
Dalam beberapa tahun terakhir, para jurnalis lebih perhatian pada bias-bias yang disengaja dan tak-disengaja, sebagian karena kritik dari kedua kalangan Kiri dan Kanan. Dalam mengonseptualkan, penelitian, dan penganalisaan peristiwa yang dijelaskan, mereka tidak dapat membantu namun bekerja dari perspektif masyarakat atau setidaknya dari profesi mereka, kelas, dan kelompok-usia, diantara lainnya, dan dari nilai-nilai dan kelompok kepentingan dengan hal itu.
Pengaruh dari nilai diri para wartawan sendiri—atau cara menentukan peristiwa yangpunya nilai-berita—terhadap audiens kemungkinan lebih kecil daripada pikiran secara umum, untuk dengan respek kepada peristiwa dan isu tentang kepedulian orang secara mendalam, mereka menlandaskan kepada sumber informasi lebih dari seorang—dan bias. Media mungkin lebih berpengaruh terhadap persepsi peristiwa dan isu-isu tentang perhatian publik yang kurang, khususnya di luar AS.
Pengaruh utama berita media adalah secara tidak langsung; yakni, jurnalis membantu untuk mencipta dan menggambarkan masyarakat dan dunia terhadap hal yang dilaporkan. Politisi dan pengambil keputusan publik lainnya tidak hanya melihat pada gambaran ini tetapi juga mencoba untuk menentukan bagaimana opini publik akan bereaksi atas itu, yang dipengaruhi oleh keputusan sesudahnya.
Bahaya Budaya Populer pada Masyarakat
Kritik terhadap efek budaya populer terhadap masyarakt mengandung dua hal. Pertama, bahwa budaya populer selera (yang lebih) rendah masyarakat secara keseluruhan, sehingga menurangi kualitasnya sebagai masyarakat. Kedua, hal itu dianjurkan karena media massa dapat “menakortikakan” dan “mengatomkan” orang-orang, turut menyebabkan mereka dicurigai terhadap teknik persuasi massa dengan keterampilan demagogues yang mencabut demokrasi. Bernard Rosenberg merangkumnya sebagai berikut: “Pada tempatnya yang  terburuk, budaya massa diperlakukan tidak hanya untuk mengkerdilkan selera tetapi untuk membuat brutal sembari memberi jalan kepada totaliterianisme.
Pernyataan yang lebih luas pada hal yang kedua, seringkali diidentifikasi dengan Kiri Baru tetapi juga bersuara di Kanan, itulah budaya massa yang bertentangan dengan demokrasi. Herbert Marcuse menlihatnya bahwa, pengawasan dengan teknologi modern pada perusahaan telah menjadi lokomotif masyarakat dimana budayapopuler membuat orang lebih dan lebih nyaman dalam kehidupannya dengan menyembahnya untuk kebebasan sebagai perlawanan atas apa yang ada dalam realita dalam sistem sosial yang bejat yang membiarkan kemiskinan, perang imperialistik pengupahan terhadap petani yang tak berdaya ketidaksepakatan perijinan yang hanya sepanjang ketidakefektifannya.
BUDAYA DAN TINGKAT CITARASA
Gnas menyebut bahwa iaa percaya pada kedua kemasyarakatan dan budaya populer sebagai hal yang tidak tepat. Alasan bahwa budaya populer menarik gerbong menuju suatu kemunduran masyarakat dari tingkat citarasa adalah dasar terhadap suatu perbandingan yang lonjong, dengan fitur terbaik dari perbandingan terakhir kepada penampilannya yang terburuk. Penulis seperti Oswald Sprengler dan Jose Ortega y Gasset mengingatkan kita hanya sejarah Shakespears dan Beethovens dan melupakan bakat para kerabatnya yang diabaikan. Hal yang sama, bahwa mereka mengingat jenis khusus dari seni suara, tetapi lupa yang lainnya yang lebih brutal atau vulgar daripada sesuatu dalam budaya populer hari ini.
BUDAYA DAN TOTALITARIANISME
Pernyataan bahwa budaya populer dapat menjadi lokomotif ke arah totalitarianisme adalah berdasarkan pada argumen yang menjadi pusat masyarakat, dan apa yang oleh Karl Mannheim sebut sebagai “rasionalisasi fungsional”, keluarga dan kelompok utama dan asosiasi sukarela dan kelompok sekunder yang berdiri di antara individu dan negara telah kehilangan kekuatan, meninggalkan individual sebagai suatu atom yang kehilangan-daya vis-a-vis negara.
Analisis dibutuhkan untuk memecahkan ke dalam elmen pengikut. Hal ini benar bahwa Negara dapat mengambil alih media-massa masyarakat ke dalam sasarannya sendiri, yang mungkin terjadi pada masa perang bahkan di negara sistem demokratis sekali pun.
Bahkan juga, ketika kekuasaan negara meningkat, dan dalam kondisi krisis, mungkin orang-orang menjadi lebih takut dan sering-panik, atau juga diperlakukan oleh perubahan sosial yang mereka inginkan untuk memberi kekuasaan kepada pemimpin yang kuat yang bisa menjanjikan jalan keluar atas masalaha yang dihadapi.
Karena media membantu mempertajam budaya dan iklim politik masyarakat, mereka secara konstan menyusun kembalidengan suatu tekanan, dan bahkan dengan upaya pengambilalihan. Sebagian mengenai hal ini adalahbenar dalam televisi. Dalam masyarakat demokratik, solusi ideal harusnya memiliki media yang terorganisasi sebagai institusi nonprofit yang dapat memisahkan diri dari pemerintah, komersial, dan tekanan lainnya, tetapi hal ini sangat tepat sebagai institusi yang sulit mendapatkannya. Penyiaran publik, walaupun instutusi nonprofit seringkali kurang sukses daripada jejaring televisi komersial dalam bertahan melawan tekanan dari pemerintah, atau dari bisnis dan para pemimpin “madani” yang duduk dalam jajaran penentu keputusan.
Bagi Marcuse, budaya populer adalah berbahaya tidak hanya kepada penggunanya, tetapi juga sebab ia “mencandui” mereka untuk menerima status quo politik.
Sumber-sumber dan Bias-bias Kritik Budaya Massa
Ketika membandingkan pengaruh empiris dengan lainnya, kritik budaya massa tidak berdiri tegak dengan baik. Tidak hanya kesamaannya dalam bagaimana budaya populer dan budaya tinggi diciptakan, tetapi sikap sebelumnya tanpa sejati yang mengarah ke budaya tinggi atau penciptanya. Terlebih lagi, budaya populer mengandung tidak hanya pengaruh, kecuali mungkin terhadap orang-orang minoritas yang mengkonsumsinya. Sebab ada kesenjangan dalam kesluruhan efek, hal ini tak dapat dipertimbangkan sebagai suatu sumber bahaya kepada masyarakat atau kepada bentuk demokratis dari pemerintah.
Konsekuansinya, kritik adalah suatu pernyatan secara luas atas estetika yang tak memuaskan dengan isi budaya populer, disesuaikan dengan perkiraan yang salah dari efek negatif dan berdasarkan pada suatu konsepsi yang keliru dari kegunaan dan fungsi budaya populer.

Referensi
Gans, Herbert J. Popular Culture and High Culture: An Analysis and Evaluation of Taste. New York: Basic Books, Inc. Publishers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar